Marak Isu Ketidakadilan Gender, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Adakan Webinar

Kelompok 61 dan 62 Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) angkatan 77 UIN Walisongo Semarang mengadakan kolaborasi pelaksanaan webinar kesetaraan gender dengan mengusung tema “Ketidakadilan Gender dan Peran Ganda Perempuan”. Acara dilaksanakan menggunakan media zoom meeting, dengan jumlah peserta kurang lebih sebanyak 60 orang, yang merupakan mahasiswa dari berbagai jurusan.

Maraknya isu ketidakadilan yang dialami kaum perempuan menjadi perbincangan hangat yang perlu didiskusikan oleh para aktivis. pentingnya diskusi ini tentunya bukan hanya perbincangan semata melainkan menjadi salah satu pengusung lahirnya sebuah gagasan yang mampu menghadirkan solusi terhadap isu tersebut. Diusungnya tema ini bertujuan agar para mahasiswa dapat menyadari betapa pentingnya keadilan gender. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Nadya Ariyani selaku Dewan Pembimbing Lapangan (DPL) dalam sambutannya.

“Melalui webinar ini kami berusaha untuk memberikan sumbangsih kepada pembentukan generasi saat ini agar lebih menyadari pentingnya keadilan gender, dengan harapan lebih lanjut  diadakannya webinar kali ini bisa turut menghasilkan kondisi dimana porsi dan siklus sosial laki-laki dan perempuan setara, seimbang, harmonis dan serasi,” ungkapnya.

Ketidakadilan terjadi apabila adanya pembatasan terhadap akses, peran, partisipasi, kontrol serta manfaat terhadap seseorang. Sedangkan yang dimaksud dengan ketidakadilan gender itu adalah ketidakadilan yang baik itu didapatkan oleh laki-laki maupun oleh perempuan. Adanya peran ganda atau sering disebut double bourden seorang perempuan menjadi salah satu topik yang dibahas dalam diskusi tentang kesetaraan gender ini.

“Peran ganda berarti peran yang ganda atau istilahnya double bourden, hal tersebut bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan, walaupun hal tersebut biasanya sering dialami oleh perempuan. Perempuan jika dalam budaya Jawa umumnya diberi peran bahwa ia harus di rumah, padahal ayat-ayat atau hadist-hadist juga membicarakan tentang peran laki-laki dan perempuan sebenarnya berbasis pada realita sosial,” terang Anthin Lathifah selaku pemateri dalam diskusi tersebut.

Peserta menyimak penjelasan pemateri saat Webinar Kesetaraan Gender

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Banyak kasus terkait double bourden yang dialami oleh perempuan dimasyarakat, ketika seorang perempuan memiliki tugas untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, banyak juga perempuan yang harus mencari nafkah juga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut dikarenakan ketika seorang perempuan hanya melakukan pekerjaan domestik saja, terkadang laki-laki menganggap perempuan tersebut tidak bekerja.

“Diadakannya webinar kali ini agar bisa  meluruskan pandangan laki-laki terhadap peran dan tugas seorang perempuan yang seharusnya,” ungkap Khodijah selaku ketua panitia acara.

Muhammad Bayu Aji, salah satu peserta juga mengugkapkan kesannya setelah mengikuti webinar tersebut.

“Saya jadi lebih tahu dan sadar terkait masalah kesetaraan gender yang dialami perempuan, semoga kedepannya tidak ada lagi pandangan negatif di masyarakat terkait perempuan yang selalu dipandang tidak baik kalau hanya mengurusi dapur, kasur, dan sumur,” ujarnya.

UIN Walisongo Semarang | Journal Walisongo | Library Walisongo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UIN Walisongo Semarang